Sebagai orang yang tidak akan belum menikah, saya sering bertanya-tanya kapankah waktu yang tepat untuk mengambil keputusan MENIKAH.
Apakah keputusan itu akan sangat tergantung pada “person” ataukah “situation“.
Artinya begini, jika itu tergantung pada aspek person, kehadiran seseoranglah yang akan menentukan “when the right time is“.
Seseorang itu pula yang tiba-tiba membuat kita amat sangat yakin sekali bahwa kita harus menikah SEKARANG.
Ataukah, keputusan itu lebih tergantung situationally. Misalnya, karena semua faktor yang dibutuhkan untuk menikah sudah terpenuhi; umur, materi, tuntutan orang tua, kesiapan mental and so on.
Kemungkinan yang paling mudah, dari perspektif unmarried man, bisa jadi keputusan itu merupakan kompromi dari 2 unsur tadi, person dan situation.
Tapi, itu bukan berarti pertanyaannya terjawab dengan gampang. Seperti apa proporsinya ? Person 40, Situation 60 ? Person 60, Situation 40 ? Atau, fifty-fifty ?
Tapi, benarkah se-simple itu kalkulasinya ? Bahkan untuk mengira-ngira takaran prosentase itupun bukan perkara mudah.
Atau justru, seharusnya tidak ada perhitungan semacam itu sama sekali. “Well, bro…we just know it…,” seperti kata seorang teman yang telah menikah.
“Keberuntungan selalu beserta orang-orang yang berani”, kata teman lainnya yang akan menikah bulan depan, mengutip Machiavelli.
Masalahnya kawan, benarkah ini merely masalah feeling. Gimana kalau insting kita salah ?
Ini juga bukan masalah berani dan tidak berani. Sekedar berani tidak akan bisa menjawab pertanyaan : What next…?
C`mon, KAWIN, man ! Ini adalah salah satu keputusan terbesar dalam hidup seseorang.
“Gimana kalau keputusan itu salah ?”
“Gimana kalau apa yang terlihat di permukaan itu ternyata jauh lebih dalam ?”
Akhirnya, diskusi spontan dengan beberapa teman seperjuangan di sebuah kafe sekitaran Tunjungan itu tidak menghasilkan komunike apapun. Sama saja seperti pembicaraan kami yang sudah-sudah, dengan topik yang kurang lebih sama, tapi dengan panelis dan venue yang berbeda.
Perjalanan pulang. Di tengah alunan suara Daniel Sahuleka :
Don’t sleep away this night my baby
Please stay with me at least till dawn
…………….
“Jangan-jangan kita emang pengecut ?,” tanya Agus dari balik asap tipis A-Mild-nya.
Mungkin. Tapi apa salahnya kalau kepengecutan itu menyediakan delay time yang lebih banyak. Buying time, sebelum mengambil keputusan yang terbaik, di saat injury time, jawab Edo seolah lebih untuk meyakinkan dirinya sendiri.
“Eniwei, pernikahan adalah waktu yang terlalu lama untuk cinta,” Agus menyitir novel Riri Sardjono.
“Indeed…”
“Ha ha ha,” dan kedua “remaja paruh baya” itu menertawakan dirinya sendiri. Getir.
Incoming search terms for the article:
- keputusan menikah
- Ketika itu
- saat waktu itu tiba
- kapan saat itu tiba
- ketika waktu
- arti buying time
- novel riri sardjono
- novel ketika waktu telah tiba
- novel-novel karya riri sardjono
- novel-novel riri sardjono
4 Responses to “Ketika Waktu Itu Tiba…”
Trackbacks/Pingbacks
- Kylie BattName - ?????????. ?? ??? ?? ??????????, ??? ? ???? ????? ?????? ?????????? ?? ????? ????????... No related posts. Related posts ...
- Kylie Batt - ? ??????, ??? ?? ?????????? ??????. ?????? ??? ? PM, ??????????.... Apakah keputusan itu akan sangat tergantung pada “person” ...

soal menikah itu butuh komitment antara pria dan wanita