1. Cinta dikenal oleh semua kebudayaan manusia.
Mulai dari kebudayaan-kebudayaan kuno di Mesir, India hingga Cina mengabadikan Cinta dalam berbagai prasasti, monumen hingga legenda. Di masa modern, konsep tentang Cinta bahkan lebih terasa dalam kehidupan sehari-hari. Kebudayaan populer (pop culture) seolah menjadikan Cinta bagian dari “kemanusiaan” itu sendiri.
2. Cinta tampil dalam kata-kata di semua bahasa dunia.
Beberapa bahasa, termasuk Bahasa Indonesia, bahkan memiliki pilihan kata yang lebih banyak (kasih, sayang, asmara, dan cinta – misalnya) dalam mengungkapkan konsep Cinta (Love) dibandingkan dengan bahasa-bahasa Eropa modern. Sedangkan Bahasa Yunani yang merupakan sumber dari semua bahasa di Eropa membagi cinta dalam beberapa kata yang sekaligus mewakili suatu tingkatan konseptual tertentu : eros, philia, agape.
3. Peradaban ribuan tahun manusia yang mengenang Cinta dalam filsafat, sastra dan seni akan terlihat sangat BODOH bila ternyata … Cinta tak pernah ada.
Para filsuf, pujangga dan seniman dari seluruh dunia yang membentuk peradaban patut dikecam dan dikutuk karena turut bertanggung jawab atas penyesatan secara kolosal pemikiran manusia.
4. Jutaan orang yang jatuh cinta harus menjalani perawatan serius karena mengalami delusi dan halusinasi bila Cinta merupakan gejala kejiwaan yang menyimpang.
Rumah Sakit dan klinik kesehatan harus menyediakan unit pelayanan khusus untuk menangani begitu banyak penderita “Love Syndrome” kronis. Spesialisasi tentang penyakit Cinta harus dikaji secara mendalam melalui kajian khusus dalam berbagai jurnal kedokteran dan psikologi. Cinta mungkin menjadi epidemi paling serius dalam sejarah eksistensi manusia.
That’s why, Cinta HARUS dan PASTI ada.
Jika tidak, what a waste life we live for …
Apatisme orang-orang yang tidak percaya akan keberadaan Cinta mungkin jauh lebih mengkhawatirkan daripada status kesadaran atas eksistensinya.
Diktum René Descartes (1596-1650)*, yang menyatakan :
“Saya berpikir,maka saya ada (Cogito, ergo sum – I think, therefore I am)
mungkin perlu ditambah dengan
“Saya mencinta, maka saya ada…..”


2 Responses to “Alasan kenapa Cinta PASTI ada !”
Trackbacks/Pingbacks